• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

  • ekahope

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

  • [SAYA INDONESIA]

    Menggalakkan gotong royong, rasa kepedulian serta menanamkan semangat Pancasila dalam kehidupan sehari - hari

  • Partai BERKARYA

    Saatnya BERKARYA, bukan bergaya

  • PARTAI BERKARYA (Nomor 7)

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 25 Desember 2019

Kembalikan Dunia Anak Indonesia




Bagi kita yang pernah mengalami hidup disaat era orde baru, sebagaian orang merasa adanya perubahan terutama dalam kehidupan bermasyarakat. Mungkin ada yang merasakan apa yang saya rasakan, dan ada pun yang berbeda. Hal itu adalah sebuah kewajaran dan bisa saya pahami karena itulah manusia. Pasti berbeda – beda dalam menyimpulkan atau menyikapi kondisi dan yang dilami atau dirasakan.
Bagi saya, terlepas dari pro kontra terkait cerita era orde baru, namun dari prespektif pandangan saya yang hidup di tahun 80-an terkait dunia anak semasa kecil saya. Pengalaman masa kecil saya saat itu adalah masa kecil yang indah dengan cerita semasa kanak – kanak yang benar – benar dunia anak – anak Indonesia. Di saat yang sama, saya yang kala itu menghabiskan masa kecil saya di Kabupaten Fakfak Provinsi Irian Jaya merupakan salahsatu kota kecil pulau cendrawasih. Dimana permainan tradisional kala itu sangat berketergantungan dengan alam berupa tanah, pasir dan batu dikombinasikan dengan alat main seperti kelereng, karet gelang bahkan hingga memanfaatkan cangkang siput atau kerang agar menjadi sebuah permainan yang menyenangkan.
Belum lagi permainan dengan memanfaatkan tanaman yang dijadikan senjata untuk bermain perang – perangan, kulit jeruk bali yang dijadikan mobil – mobilan, dan masih banyak lagi permainan – permainan hasil dari kreasi berbahan dasar hasil dari alam yang ada untuk dimanfaatkan menjadi sebuah mainan.
Musim liburan tiba, dan itu serentak setahun sekali di seluruh Indonesia. Hampir setiap tahunnya saya berlibur ke pulau jawa dengan keadaan yang tentunya jauh berbeda dengan daerah asal saya saat itu di Irian Jaya tentunya. Surabaya sebagai kota di pulau jawa yang juga kota terbesar dan metropolitan setelah Ibukota Jakarta pastinya merupakan kota yang modern baik dari fasilitas Pendidikan maupun fasilitas di kota itu sendiri karena kemajuan yang pesat dari hasil pembangunan Indonesia yang sebagai Negara berkembang. Meskipuan perbedaan itu sangat mencolok dari segi pembanguanan infrastruktur maupun penduidikan, akan tetapi dunia anak – anaknya ternyata nyaris sama. Jadi permainan apa yang saya dan teman – teman mainkan di daerah asal, ternyata juga menjadi permainan anak – anak di Kota Surabaya. Sehingga disitu saya bisa cepat untuk beradaptasi dan tidak merasa ketinggalan terkait dunia anak.
Namun ada juga yang tidak saya temukan di daerah asal saya, dimana angka kriminalitas yang nyaris tidak ada, berbeda dengan di Surabaya, yang angka kriminalitasnya lumayan tinggi. Akan tetapi saya pun mendengar obrolan – obrolan orang – orang dewasa saat itu bahwa Negara tidak tinggal diam melihat kondisi terganggunya keamanan, ada istilah petrus yang sering disebut – sebut dan masyarkat pun menyambut baik karena dampak positif yang langsung terasa bahwa kondisi tidak aman itu tak berlangsung lama. Angka kriminalitasnya pun benar – benar ditekan sehingga secara signifikan mengakibatkan menurunnya angka kriminalitas tersebut.
Jadi, bila dibandingkan dengan kondisi saat ini dengan maraknya penculikan anak yang menjadikan anak merasa tak lagi merasa aman, serta pengaruh bebasnya informasi yang sudah tidak terkendali lagi, berdampak negative bagi dunia anak – anak yang berakibat fatal dengan hilangnya karakter anak Indonesia, ini merupakan ancaman sangat serius sebenarnya karena dunia anak adalah cikal bakal dalam mencetak generasi penerus untuk masa depan sebagai generasi yang berkarakter, unggul demi Indonesia yang maju dan bermartabat.
Itu mungkin, singkat cerita  semasa kecil saya dulu di era orde baru tepatnya ditahun 80-an dimana anak – anak kala itu yang benar – benar diberikan oleh Negara ruang yang bebas dan luas untuk bermain, berkreasi namun tidak mengganggu aktifitas Pendidikan, sehingga kualitas Pendidikan dasar serta pembentukan karakter sebagai anak Indonesia tetap terjaga dan berjalan dengan baik sebagaimana mestinya.
Semoga Pemerintah, dalam hal ini para pemimpin di Negeri ini dapat mengembalikan dunia anak Indonesia yang sesungguhnya agar indahnya dunia anak yang pernah saya alami juga dapat dialami oleh anak cucu.

#ekahope
#sayaindonesia

Share:

Sabtu, 14 Desember 2019

Saya mengajak kita semua


Saya mengajak kita semua berpikir, dan renungkan agar kita tidak sebagai Rakyat yang.... :
-Yang hanya menjadi komoditas politik untuk kepentingan kelompok/golongan tertentu.
-Yang hanya ikut - ikutan tanpa pertimbangan.
-Yang hanya ingin terlihat eksis tanpa isi.
-Yang hanya aji mumpung tanpa konsep yang cerdas dan terukur.
-Yang bisa dibeli.

Saya ambil contoh sampel ini berdasarkan sejarah yang saya alami dulu hingga saat ini.

Di era Orde Baru :
-Saat itu saya sering  mendengar dan mempelajari tentang GBHN,
-Saat itu MPR adalah sebagai Lembaga tertinggi Negara.
-Saat itu Presiden dipilih oleh MPR.
-Saat itu sudah ada BP7 (Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) hingga tingkat Kabupaten.
-Saat itu minimnya ruang kritik.

Di era Reformasi (Pasca Orde Baru) beberapa kali Amandemen UUD 1945 telah dilakukan, dan saat ini wacana amandeman UUD 1945 mulai mencuat, terutama soal dikembalikannya GBHN dan Presiden dipilih MPR sebagai Lembaga tertinggi Negara :
-Zulfan Lindan (Ketua DPP Partai Nasdem) mengatakan ide Kembali ke GBHN dan MPR menjadi Lembaga tertinggi Negara muncul dari PDIP berdasarkan studi selama ini, seperti yang disampaikan Sekjend PDIP Hasto Kristiyanto, MM.
-KH.Marsudi Syuhud (Ketua PBNU) mengatakan, NU mendukung pemilihan Presiden dikembalikan ke MPR dengan pertimbangan kondisi sosial politik dan juga dari segi keuangan.
-Presiden Ir.Joko Widodo membentuk BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) sebagai upaya pembinaan Pancasila, dan baru ada di tingkat Pusat.
-Akhir - akhir ini dengan dasar pasal RKUHP pasal 263 dan 264, menjadikan banyaknya batasan - batasan sehingga mengakibatkan menyempitnya ruang kritik terhadap Pemerintah terutama Presiden sebagai Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan dengan sistem Presidensial saat ini.

Dari beberapa sampel di atas dengan perbandingannya, saya sebagai orang awam berpikir bahwa jika memang nantinya seperti itu kondisinya, lantas.....
-Apakah sebegitunya salah dan dosa orde baru sehingga doktrin terhadap generasi penerus bahwa saat itu kelam?
-Reformasi sebenarnya untuk apa dan siapa?
-Apa isu - isu negatif orde baru hanya digunakan sebagai senjata untuk kepentingan mereka yang hanya untuk merebut kekuasaan semata?

20 tahun lebih sudah pasca orde baru yang seakan - akan sebagai ajang uji coba dalam mengelola Negara ini dan 265 juta jiwa lebih rakyat dianggap sebagai kelinci percobaan. Semoga kita semua lebih peduli dan terus belajar, terutama dari kesalahan agar tidak mengulangi kesalahan, tentunya dengan dasar pemikiran akal sehat.

#ekahope
#sayaindonesia
#politikkonyol
#reformasigagal
Share:

Senin, 23 September 2019

Enak Zaman Pak Harto

(23/09/2019) Siang ini saya berada di rumah Umi saya di Sokasari - Desa Wage - Kecamatan Bumi Jawa - Kabupaten Tegal.
Kebetulan rumah Embah Turiyah (Adik Umi saya) tidak jauh, hanya berjarak 10 meter dari rumah Umi saya. Saya diajak makan siang di rumah beliau dengan menu yang sangat - sangat uenak. Beliau diusia hampir 70 tahun di rumah hanya seorang diri, setelah 2 tahun lalu suami beliau meninggal dunia. Sebenarnya beliau memiliki 8 orang anak namun  dua anaknya meninggal dunia, yang satu anaknya tinggal disebelah rumah dan yang lain merantau. Alhamdulillah semua anaknya sdh berkeluarga.
Usai menyantap makan siang, saya dan embah Turiyah ngobrol - ngobrol seru bagaikan seorang wartawan dan narasumbernya. Tapi narasumbernya ini bukan politisi dan bukan pengusaha apalagi penguasa.
Awalnya beliau cerita tentang nasi yang kita makan, katanya nasi yang kita makan adalah beras IR, dengan masa tanam yang relatif lebih cepat dibanding beras - beras lain. Rasa penasaran saya mulai muncul, mulailah saya bak seorang wartawan bertanya kepada beliau. Ya... lebih kurang lebih, beginilah obrolannya :

Saya : Embah bertani sehari - hari?
Embah Turiyah : Iya kalau lagi nanam.
Saya : Kalau tidak lagi nanam?
Embah Turiyah : Saya ngulang (ngajar) ngaji di TPQ, sudah 30 tahunan lebih saya ngulang.
Saya : Embah, maaf jadi guru ngaji itu digaji?
Embah Turiyah : Iya setahun Rp250.000,-.
Saya : Ooo... (Dalam hati kaget), Embah punya sawah? modal awalnya berapa embah? terus hasilnya dijual?
Embah Turiyah : Iya punya, sekitar setengah hektar, masa tanamnya 100 hari dengan hasil panen kurang lebih satu ton. Dengan modal hampir lima juta, Akhir - akhir ini saya sudah tidak jual lagi, karena nggak untung dan bisa rugi, jadi berasnya dibuat makan sendiri dan bagi - bagi ke anak dan keluarga aja. Harga beras yang masih ada kulitnya dari petani Rp4.000,-/kg, ongkos giling untuk jadi beras Rp500,-/kg, harga beras petani yang kualitas paling bagus kisaran Rp8.000,- hingga Rp9.000,-. Tapi sangat jarang petani yang bisa menjual beras karena modal awalnya dari hutang dan perjanjiannya dengan yang menghutangi hasil panen berupa beras yang masih berkulit itulah yang dibeli.

Sudah bisa ada gambaran kan, berapa keuntungan petani yang harus diperoleh selama 100 hari bekerja? secara garis besar saya lanjutkan ceritakan obrolannya ya.

Saya : Kalo dulu bagaimana embah?
Embah Turiyah : Kalau dulu jaman Pak Harto itu aman, padahal penerangan tidak ada. sekarang jalan ada, penerangan ada malah rawan. Dulu apa - apa murah tapi sekolah bayar, tapi bayarnya pun murah. Kalau sekarang sekolah gratis tapi apa - apa mahal. Dulu petani masih bisa nabung, sekarang balik modal saja susah.
Saya : Embah kalo listrik masuk sini kapan?
Embah Turiyah : Sekitar diatas tahun 2000an, dulu pakainya lampu minyak tanah.
Saya : Dulu beli minyak tanah susah?
Embah Turiyah : Dulu minyak tanah banyak, murah jadi nggak khawatir.
Saya : Sekarang jalannya sudah bagus ya embah di desa?
Embah Turiyah : Iya, kan setiap Lurah baru pasti diperbaiki, kan itu bikinnya borongan jadi kualitasnya cepet rusak. Jadinya setiap ganti lurah ya dibangun (mungkin maksudnya diperbaiki) lagi jalannya.

Ya itulah fakta dari data yang saya peroleh dari yang namanya rakyat biasa yang polos yang berhati bersih, bukan yang sudah berjiwa saling memberangus untuk mengejar dunia demi kepentingannya dengan mengabaikan nilai - nilai kebaikan.


#ekahope
#sayaindonesia
#politikkonyol
Share:

Rabu, 17 Juli 2019

Zonasi Pendidikan


Beberapa waktu lalu, masih hangat dalam benak kita, terkait aturan Zonasi dalam perekrutan siswa baru. Pada dasarnya, sistem zonasi itu bagus. Namun, sebelum saya membahas itu, Saya ingin sedikit memberikan gambaran.
Setiap kebijakan, tentulah ditanggapi beragam pro dan kontra di tengah - tengah masyarakat. Salah satunya kebijakan sistem zonasi ini. Bagi sebagian masyarkat yang pro, mungkin lebih karena mengedepankan dari sisi teori keilmuannya dalam menyikapi sistem zonasi ini. Ya, memang sistem zonasi ini sangat bagus diterapkan jika ditunjang dengan sarana dan prasarana yang merata kualitasnya. Namun, jika tidak ditunjang dengan sarana dan prasarana yang merata kualitasnya, maka hanya akan menimbulkan polemik yang ujung - ujungnya masyarakat hanyalah sebagai korban kebijakan seperti yang dialami sebagian besar orang tua yang tahun ini putra putrinya menjadi siswa baru.
Perjuangan orang tua yang menginginkan putra putrinya mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas menjadi pupus hanya karena jarak antara tempat dan sekolah.
Niat Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mungkin baik karena ingin menerapkan seperti di Negara - Negara maju. Salahsatu contoh di Jepang. Di Jepang, bahkan jauh sebelumnya sudah ditentukan peserta didiknya melanjutkan pendidikannya di sekolah mana. Perlu diingat, sekolah - sekolah disana ibarat mini market modern di Indonesia yang dari bangunannya, karyawannya, kenyamanannya, bahkan produk - peoduk yang ditawarkan semuanya sama. Sehingga masyarkat pun pastinya akan berbelanja di mini market terdekat di wilayah tempat tinggalnya.
Standarisasi sarana serta prasarana inilah  mungkin yang harus disiapkan terlebidahulu oleh Pemerintah dalam menerapkan kebijakan zonasi ini. Bayangkan saja jika semua sekolah kondisinya semuanya sama. Tentunya zonasi akan jadi solusi brilian tanpa harus terkesan pemaksaan, dan para orang tua pun tidak harus berjibaku, bersusah payah untuk mendaftarkan putra putrinya sebagai peserta didik baru melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya sebagai siswa baru

Share:

Rabu, 10 Juli 2019

Demokrasi Pancasila atau Demokrasi Liberal?


Pancasila adalah ideologi dasar kehidupan di Negara Indonesia, namun ironisnya pondasi dalam struktur ketatanegaraan ini, seakan - akan tergoyah oleh masuknya ideologi - ideologi lain.
Semisal, dalam pelaksanaan demokrasi pasca orde baru. Nilai - nilai Pancasila seakan sudah tidak lagi menjadi pedoman kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Tenggang rasa, Tepo-seliro, gotong royong serta musyawarah sudah tidak lagi mewarnai sosial kehidupan kita. Hal ini tentunya menjadi celah pada upaya memecah belah persatuan dan kesatuan yang merupakan benteng guna menjaga utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Demokrasi di era orde baru, menurut saya, lebih kepada pembelajaran dalam proses membangun sebuah demokrasi Pancasila seperti yang diamanahkan Pancasila sebagai ideologi dasar. Terang saja, banyak pihak yang mencemooh hal ini, dengan mengait - ngaitkan otoritas kepemimpinan Presiden Soeharto. Bisa jadi, cemoohan itu hanya dijadikan argumen politik hanya sebagai cara agar Negara Indonesia lemah dan berketergantungan dengan negara lain. Lebih ekstrimnya lagi, keinginan Negara Indonesia bubar.
Bagi saya, tanpa disadari, bahwa demokrasi yang dijalankan saat ini lebih pada demokrasi liberal. Kenapa demikian? Sebab, sebagai Negara Pancasila seharusnya demokrasi Pancasila lah yang dijalankan. Dimana musyawarah yang lebih didahulukan seperti yang tercantum pada Pancasila sila keempat yang berbunyi "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan".
Sebaiknya, kita sebagai Negara yang memiliki ideologi dasar dengan nilai - nilai Pancasila tidak selalu berkiblat ke negara - negara lain, apalagi negara liberal. Bangsa ini memiliki tatanan kehidupan sendiri sebagai Bangsa Indonesia. Sehingga bangsa ini lebih menjadi diri sendiri dan maju menjadi negara maju yang bermartabat nantinya.
Mari kita renungkan dari kejadian demi kejadian yang telah menjadi sejarah politik baik era orde lama, era orde baru hingga saat ini yang katanya era reformasi.
Apakah Pancasila masih menjadi pedoman dasar dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat saat ini?
Apakah Bangsa Indonesia ini masih ada?

#ekahope
#politikkonyol



Share:

Selasa, 09 Juli 2019

Politik "KONYOL?"


Pada tahun 2019, Indonesia melaksanakan Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif untuk kali pertama secara bersamaan, dan inipun tercatat dalam sejarah. Namun hawa panas mulai terasa sejak awal tahun 2018, ini merupakan kondisi yang kurang baik dalam proses menjelang pesta demokrasi terbesar dalam sejarah demokrasi Indonesia, bahkan mungkin dunia. Dimana sebelumnya, edukasi tentang politik terasa sangat kurang didapatkan masyarakat, dikarenakan perseteruan antar elit politik disuguhkan terus menerus sejak tahun 2014. Bahkan istilah HOAKS sudah jadi santapan sehari - hari, karena seringkali mewarnai pemberitaan berbagai media, baik isu - isu tentang munculnya kembali komunis, isu - isu tentang intervensi Tiongkok terkait ekonomi dengan banyaknya hutang, serta masuknya jutaan tenaga kerja asing unskill, bahkan sampai isu - isu tentang Agama.
Namun ditengah hiruk pikuk tersebut, mendorong banyak kalangan di masyarakat menjadi peduli politik, ditandai dengan munculnya relawan - relawan.
Tentunya ini hal positif  dalam proses demokrasi terkait pendidikan politik, karena memunculkan minat masyarakat yang mulai tertarik terhadap politik. Akan tetapi, hal ini kurang dirasakan dalam Pemilihan Legislatif, yang juga dilaksanakan dalam waktu bersamaan, disebabkan masyarakat lebih terkonsentrasi terhadap Pilpres. Perihal kurangnya ketertarikan itu tadi, seperti sebelum - sebelumnya kampanye ala Calon Legislatif (Caleg) dengan kemampuan finansialnya terjadi dimana - mana, tanpa disadari itu merupakan upaya pembodohan kepada masyarakat, yang dilakukan para politisi dalam hal ini terutama para caleg, dibantu politisi - politisi lain bukan caleg yang tergabung dalam tim pemenangannya.
Pertimbangan finansial dalam Pileg bagi saya, disebabkan difungsinya partai politik selama ini yang lebih menerapkan politik praktis. Praktis saja, masyarakat jenuh bahkan apatis terhadap politik. Pemilih sudah tidak lagi berfikir panjang, bahkan tidak peduli dengan pemikiran serta konsep - konsep, akan tetapi apa yang diperoleh saat itu juga, dan hal ini dimanfaatkan para politisi sehingga ibarat pasar, dimana pertemuan penjual dan pembeli.
Situasi ini, tentunya menjadikan harapan rakyat dalam memilih wakil rakyat yang merakyat hanyalah tinggal harapan, karena di satu sisi caleg mengeluarkan uangnya untuk mendapatkan haknya terkait suara, di sisi lain pemilih dalam hal ini rakyat pun telah mendapatkan haknya berupa uang ataupun lainnya terkait suara yang diberikan untuk menjadikan caleg sebagai wakil rakyat terpilih untuk 5 tahun ke depan.
Semoga saja, apa yang terjadi selama ini di setiap pemilu apa saja dan dimana saja di Indonesia, kita semua punya peran penting dalam proses politik, karena semua kebijakan yang ada di negara kita merupakan kebijakan politik.
Jika kita cerdas dalam memilih, tentunya pilihan kita juga politisi cerdas, sebaliknya jika kita konyol, hanya dengan mempertimbangkan seberapa besar  yang didapat, tentunya pilihan kita juga politisi konyol yang hanya mengandalkan uang atau mungkin popularitas saja, maka yang terjadi kelak adalah kebijakan - kebijakan konyol.

#ekahope
#politikkonyol
Share:

Kamis, 05 April 2018

Sertifikasi 100% tanah air Indonesia


Hanya 1% Orang yang kuasai 80% wilayah tanah air Indonesia.
Semangat Presiden untuk menerbitkan sertifikat tanah dalam jumlah banyak sudah tak terbendung lagi, bukan hanya ingin menerbitkan sertifikat dalam jumlah banyak saja tapi juga menyerahkan sendiri ke sang pemilik sertifikat. Luar biasa  bagi saya antusias seorang Presiden yang seperti ini, tanpa perlu perangkat Pemerintah lainnya baik Gubernur hingga Lurah/Kepala Desa. Tugas  - tugas mereka semua dilakukan oleh Seorang Presiden Jokowi.
Presiden Jokowi begitu asyik membagikan sertifikat tanah kepada rakyatnya, bahkan hingga ke pelosok - pelosok. Tentu kebahagiaan yang tak terhingga pastinya dirasakan masyarakat yang menerima sertifikat tanahnya dan diserahkan langsung oleh Presidennya. Namun bagi saya apakah itu tidak terlalu berlebihan? kenapa harus dikebut waktunya dalam mengeluarkan sertifikat toh kalo memang sertifikat itu benar - benar ada? Jika saya tidak salah di sela - sela pembagian sertifikat Presiden Jokowi juga menyampaikan sertifikat ini bisa dijaminkan sebagai modal usaha.

Disaat kondisi ekonomi serba sulit sekarang ini . Yang saya takutkan sisa 20% tanah air yang belum dikuasai ini dikarenakan hanya karena belum jelas kepemilikan atau sertifikat sehingga pihak - pihak yang ingin menguasai tanah air kita enggan untuk mengeksekusi. Bagi penerima sertifikat merasa ini adalah bukan hanya sekedar sertifikat, namun juga menjadi harapan besar untuk bisa melanjutkan kehidupan yang jauh lebih baik dilihat dari kacamata ekonomi karena Sertifikat itu bisa dijaminkan atau dijual untuk dijadikan modal usaha mereka. Tapi apakah juga tidak riskan untuk timbul permasalahan baru disaat kondisi ekonomi seperti sekarang ini, dimana disaat sertifikat itu tidak dapat diambil kembali dikarenakan usaha mereka gagal .
Sudah bisa dibayangkan ditangan siapa kira - kira kemana akhirnya sertifikat itu?
Dan apakah tidak mungkin sisa kekayaan kita yang 20% itu juga dikuasai oleh orang yang 1% tadi?
Bisa jadi ada benarnya juga kritikan Amien Rais terhadap Jokowi terkait bagi - bagi Sertifikat ini.
Semoga apa yang saya khawatirkan ini tidak terjadi, Aaaamiiiin....

#ekahope
#sayaindonesia

Share:

PRABOWO SUBIANTO Pembayar Hutang Terbaik Di Dunia




Anda mungkin tidak percaya, atau kalau pendukung Jokowi pasti akan bilang, halah yg nulis NAnik S Deyang. Baik, sebelum nulis, apa yang saya tulis ini bisa di cek langsung ke dua orang. Satu mantan Dirut Bank Mandiri ECW Neloe , dan satu lagi Mantan Dirut Bank Mandiri juga yang sekarang menjadi Gubernur Bank Indonesia, Agus Mar…to Wardoyo.


Bahkan soal ketaatan Prabowo membayar utang ini pernah saya sampaikan ke Dahlan Iskan , sebagai Menteri BUMN. Saya bilang ke Pak Dahlan , harusnya Pak Prabowo Subianto itu mendapat medali sebagai debitur Bank BUMN yang paling patuh. Waktu itu Dahlan bilang ..”nanti saya kasih penghargaan” katanya. Tentu Dahlan mengucapkan itu, sebelum mendukung Jokowi.



Baik saya akan mulai cerita soal hutang Prabowo. Sekitar tahun 2002, saya yang masih menjadi Pemimpin Redaksi sebuah majalah ekonomi, mempertanyakan pada Pak ECW Neloe (waktu itu Dirut Mandiri) , mengapa dia memberi pinjaman kepada Prabowo ( Prabowo saat itu berpatungan dengan Jenderal Luhut Panjaitan), untuk membeli PT Kiani Kertas (sekarang namanya PT Kertas Nusantara) milik pengusaha Bob Hasan, yang mana saat itu perusahaan tersebut menjadi “pasien” BPPN.



Kenapa saya tanyakan, karena perusahaan itu tidak sehat , dan secara keuangan juga berat, termasuk tidak memiliki cukup ketersediaan bahan baku. Kemudian juga letak perusahaan itu di sebuah pulau di Kalimantan Timur, yang secara bisnis tidak efisien, karena kalau ambil bahan baku dari luar, biaya lebih mahal.



Berkali-kali saya ingin bertemu dengan Pak Neloe, seperti biasa, saya ingin berdebat soal Kiani Kertas ini. Hingga suatu hari hampir tengah malam, saya di tilpon Pak ECW Neloe . “Deyang saya sengaja tidak tanggapi surat permintaan wawancara Anda, saya ingin bicara dari hati ke hati dengan Deyang. 



Ini bukan masalah saya memberikan kredit pada Prabowo, tapi ini masalah keutuhan wilayah NKRI. Sebagai Dirut Bank milik Negara resiko saya besar memberikan kredit pada Prabowo untuk mengambil PT Kiani Kertas, tapi sebagai anak bangsa, saya tidak mau tanah air saya sejangkal pun diambil asing,” kata Pak Neloe dengan nada amat sangat serius.



Gaya saya yg biasanya arogan dan ngeyel kalau bicara dengan nara sumber pun langsung luruh, saat Pak Neloe bicara NKRI. Saya kemudian dengarkan cerita dari A-Z soal Kiani dari Pak Neloe. Kisah singkatnya adalah sebagai berikut: Sudah lama Pulau di Kalimantan yg masuk Kabubaten Berau (kalau salah mohon dibenarkan ejaannya), Kalimantan Timur itu diinacar oleh Amerika untuk pangkalan perang AS. Ada tiga tempat tepatnya yang di incar AS untuk pangkalan perang AS yaitu di daerah Papua, Kepulauan Riau dan Pulau di Kalimantan ini. Tapi yang paling diminati Amerika adalah Pulau di Kalimantan di Kabupaten Berau ini.



Mengapa pulau di Kalimantan Timur (sekarang jadi lokasi pabrik PT Kiani /PT Kertas Nusantara) ini sangat seksi dan membuat Amerika ngiler, karena waktu itu pangkalan perang dia di Philiphina sudah habis. Kemudian posisi ini juga sangat strategis, dan secara alamaih pantainya, tanpa dibangun pun sudah langsung bisa untuk merapatkan dua kapal induk milik AS yang super jumbo itu (tidak ada satu pun di dunia yg memiliki pantai seperti ini) …kalau tidak salah ( Hazmi Srondol sudah menulis kharakteristik pulau ini lebih detil lagi).



Nah , sekitar tahun 1994 , Pak Harto punya akal, bagaimana caranya supaya Pulau di Kalimantan itu tidak dincar Amerika lagi, maka dipanggilah pengusaha Bob Hasan yang juga sahabat Pak Harto, untuk menyelematkan Pulau tersebut. Caranya Bob Hasan disuruh membangun industri Pulp and Paper termodern di dunia di pulau itu. Tentu sebagai pebisnis Bob keberatan, karena itu tadi bangun pabrik di tengah pulau , dengan bahan baku di luar pulau kan tidak efisien. 



Pak Harto tidak kekurangan akal, Pak Harto pun minta pada Menhut, kalau gak salah waktu Ir Hasrul Harahap, agar Bob Hasan diberi konsesi HPH dan juga lahan untuk Hutan Tanaman Industri (HTI) di sekitar pulau. Sedangkan agar membangun pabriknya tidak berat, Bob Hasan diberi pinjaman dari dana reboisasi (DR) milik Dephut dengan bunga 0 persen.



Saya ingat waktu itu Bob tetap berat sebetulnya menjalankannya, namun sebagi anak angkat Pahlawan RI, Gatot Subro, dan sahabat Pak Harto, maka Bob Hasan pun menjalankan perintah Pak Harto untuk menyelamatkan pulau tersebut, meski dia tahu tidak akan mudah nanti menjalankan perusahaan tersebut. Mengingat loaksi pabrik di tengah Pulau.



Horee, akhirnya Bob Hasan bisa membangun pabrik modern di pulau tersebut. Dan Pak Harto pun mulai tersenyum, karena bisa “NGAKALI” Amerika. Artinya dengan pulau itu telah menjadi lokasi bisnis yang dikelola swasta, menjadi alasan Pak Harto tdk melepaskan Pulau itu dipakai Amerika. Malang buat Pak Harto, Amerika tahu akal-akalan Pak Harto, Clinton sangat marah dan tersinggung , dan mulailah goyangan-goyangan pada Pak Harto dimulai. 



Dimulai dari krisis ekonomi, dimana operator penghancurleburan dilakukan oleh Soros , sehingga rupiah kita ambruk terpersok pada lubang yang dalam , dan semua konglomerat yg selama puluhan tahun tdk melakukan hedging pada hutang luar negerinya (Dolar) ikut ambruk semua. Hancur lebur ekonomi Indonesia, dan Pak Harto pun dijungkalkan lewat kerusuhan Mei , yg kalau orang waras berfikir sebetulnya itu bukan gerakan Mahasiswa, tapi sebuah gerakan yg dilakukan pihak tertentu dengan menggunakan Mahasiswa dan masyarakat. Itu bukan gerakan reformasi, tapi gerakan si Raksasa itu menjungkirkan orde baru, Pak Harto dalam hal ini.



Pak Harto terjunggal, Bob Hasan sebagai kroninya termasuk yg ikut dijungkalkan, bahkan akhirnya dicari kasus sepele, hingga Bob Hasan pun di buang (di penjara ) di Nusa Kambangan.



Bersamaan dengan dikandangkannya Bob Hasan di penjara Nusa Kambangan, tentu bisnis Bob Hasan yg sudah kehantam krisis , makin porak poranda. Semua perusahaan Bob Hasan termasuk Kiani, menjadi jaminan utangnya, dan dimasukkan ke BPPN (Badan Penyehatan Perbakan Nasional).



Tahun 2002 , Bob Hasan yang waktu itu masih di penjara Nusa Kambangan , mendapat kabar bahwa perusahaannya yg menjadi pasien BPPN ditawar tinggi oleh JP Morgan. Otak Bob langsung jalan, ia tidak mau Pulau itu jatuh ke tangan asing, maka Bob menghubungi orang yg sangat mencintai Indonesia, orang tersebut adalah Prabowo Subianto. Sayang Prabowo tidak punya uang , maka Bob menghubungi orang yg setipe dengan Prabowo yg juga sangat nasionalis, orang tersebut adalah kawan dekat Gus Dur dan Juga Megawati, yaitu Dirut Mandiri, ECW Neloe.



Gayung bersambut, Neloe bersedia memberi pinjaman kepada Prabowo, untuk membeli Kiani dari BPPN, agar tidak jatuh ke perusahaan Asing yaitu JP Morgan. Meski dipinjami Bank, Prabowo tetap harus menyediakan uang sekitar 30 persen dari harga PT Kiani, dan saat itu Prabowo mengajak Luhut Panjaitan yang terlebih dahulu sudah terjun sebagai pebisnis.



Nah bagaimana cerita selanjutnya????? . Nanti Anda akan mendapat gambaran , siapa sebetulnya yang paling mencintai Indonesia ini dengan Ikhlas???

Oke, akhirnya Bank Mandiri menyetujui pemberian pinjaman ke Prabowo dan Luhut, dan saat itu untuk membeli PT Kiani diberi pinjaman sekitar 1,8 T (tahun 2002).


Setelah di tangan Prabowo , tentu tidak mudah membenahi perusahaan yg selama tiga tahun (selama di BPPN) hampir tidak bertuan ini. Belum lagi masalah bahan baku , dimana hutan tanaman industri yang dipakai sudah tidak bisa mengejar kebutuhan , padahal Prabowo bersikukuh tidak mau memakai bahan baku hutan alam , maka yang dilakukannya adalah dengan mengimpor bahan baku dari luar negeri. Tentu ini sangat mahal biayanya.
Prabowo juga harus berjibaku untuk melakukan renegosiasi dengan para supplier berupa hutang peninggalan dari manajemen lama, saat membangun pabrik tersebut, dan mengoperasikannya. Prabowo juga terus bertahan untuk tidak mengurangi karyawan di perusahaan itu.



Dalam kondisi yang amat sangat sulit tetap mengoperasikan perusahaan itu, dengan bahan baku yang harus impor, dan karyawan yang terus dipertahankan dalam jumlah banyak (1500 orang), ternyata di internal manajemen perusahaan terjadi konflik antara Prabowo dan Luhut. Kabarnya Luhut ingin menguasai perusahan tersebut. Saat konflik dengan Luhut terjadi, dalam waktu bersamaan muncul masalah di Bank Mandiri, yaitu ECW Neloe sebagai Dirut Bank Mandiri digoyang dengan kasus pemberian kredit untuk pembelian asset Domba Mas . Neloe digoyang saat awal pemerintahan SBY ( ini ada cerita sendiri , tapi karena gak berkait langsung dengan Prabowo sy tidak ceritakan).



Ketika mulai ramai pemberitaan, bahwa Neloe akan dilengserkan bukan hanya pada kasus pemberian kredit pada grup Domba Mas Medan, tapi juga pada masalah pemberian kredit pada Prabowo untuk membeli PT Kiani Kertas, Neloe pun buru-buru memberitahu Prabowo untuk segera membayar hutangnya, agar Prabowo terkena masalah hukum. Neloe yang waktu itu belum dijebloskan ke penjara dalam kasus pemberian kredit ke Domba Mas, awal tahun 2005 akhirnya bertemu empat mata dengan Prabowo.



Diceritakan oleh Neloe, awalnya karena sering dengar cerita dari teman-temannya soal temperamentalnya Prabowo, ia agak ngeper juga harus berhadapan dengan Prabowo untuk menagih utang plus bunga yang kala itu dari 1,8 dan sudah meningkat plus bunganya menjasi Rp 2,2 T. Bahkan saat masuk ke ruangan, Neloe sempat berkeringat dingin, namun Neloe juga ingat bahwa beberapa kali ia bertemu Prabowo , Prabowo orang yang memiliki sikap ksatria dan jujur, serta humanis yang diwariskan dari ibunya.



Nah saat masuk di suatu ruangan dan bertemu hanya empat mata itulah, Prabowo setelah bersalaman dan mengucapakan salam, kemudian menanyakan berapa jumlah utangnya (PT KIANI) plus bunga yang harus dibayar. Karena tidak menyangka Pak Prabowo langsung menanyakan jumlah utang , maka otomatis Neloe tidak hafal, kemudian ia keluar ruangan untuk menanyakan pada direksi Bank Mandiri yang menunggunya di luar. Kemudian Neloe masuk lagi ke ruangan membawa catatan lalu menyebutkan jumlah utang tersebut, plus bunga . Dalam kesempatan itu ECW Neloe menawarkan hair cut atas utang 2,2 triliun tersebut. Apa yang terjadi?? Prabowo mengatakan, “ Baik Pak hari ini juga akan saya bayar cash dan tidak usah di hair cut. Saya tidak mau membebani Negara dengan saya mendapat hair cut” ujar Prabowo . Neloe tercekat dalam diam, ia seperti mimpi, bagaimana dia yang sudah 35 tahun menjadi bankir malang –melintang hingga luar negeri, selalu sulit menagih utang pada debitur kakap , dan biasanya kalau toh mau bayar utang minta restrukturisasi hingga puluhan tahun, dan juga minta hair cut, kok ada pengusaha yang bernama Prabowo Subianto ini membayar cash hutang ke Mandiri 2,2 T, tanpa mau diberi potongan bunga.



Bagaimana saya bisa menceritakan perisitiwa di atas sangat detail, karena tanpa sengaja , ketika Pak Neloe sudah dipenjara tahun 2006 ( terkait kasus pemberian kredit ke Domba Mas) di LP Cipinang , saat saya kunjungi beliau bercerita hal di atas. “ Selama saya menjadi bankir itu perisitiwa langka yang pernah saya alami. Saya tidak tau dari mana Pak parbowo bisa punya uang cash demikian banyak saat itu. Dan aneh ketika semua orang ngemis minta hair cut, Pak Prabowo tidak mau ditawari hair cut. Deyang, saya mau bilang dia pembayar hutang terbik di Indonesia, mungkin malah di dunia,’ kata Pak Neloe saat itu.



Lucunya Kejaksaan yang tadinya akan menambah beban tuntutan ke Neloe berkait dia member i kredit ke Prabowo untuk membeli PT Kiani Kerta , menjadi mentah, karena tidak mengetahui bahwa semua hutang PT Kiani Kertas sudah selesai sejak awal tahun 2005. Saya pun sempat mengkonfirmasi ke Dirut Mandiri pengganti ECW Neloe kala itu, Agus Marto Wardoyo, dan benar hutang Prabowo ke bank pemerintah sudah selesai.
Dalam soal hutang ke bank pemerintah bandingkan dengan mereka yang bersama Capres sebalah sana plus konglomerat di belakangnya, ada yang pernah di black list bank pemerintah karena ngemplang, ada yang bohongi obligasi pemerintah, dan ada yang nunggak hutang mega besar yang minta restruktuisasi hingga 14 tahun dan masih minta potongan utang.



Oh ya pertanyaannya dari mana Prabowo bisa membayar duit cash ke Bank Mandiri di awal tahun 2005 itu, baru belakangan ini saya tahu, karena saya bisa bertanya langsung ke Pak Prabowo, ternyata dari menjual beberapa perusahaan minyaknya di luar negeri.



Setelah membayar utang , Prabowo yang mulai “tidak rukun “ dengan Luhut terus berjibaku mempertahankan perusahaan yang terus merugi itu. Tahun 2011, lewat konspirasi jahat (saya tidak mau menyebut siapa dibalik konspirasi itu), Prabowo digugat seseorang yang mengajak para kreditor (para supplier PT Kiani) . “Tahun 2011 itu sebagai tahun yang berat bagi saya, saya sudah hampir nyerah, ada orang yang menggerakkan para supplier untuk mempailitkan saya atas utang PT Kiani. Tujuannya pokoknya saya harus dimiskinkan ,” kata Prabowo suatu kali.
Jadi hutang yang selama ini di share kemana-mana seolah itu hutang Prabowo , itu sebetulnya hutang PT Kiani Kertas yang sebetunya tidak ada masalah, karena itu hutang pada supplier (bukan hutang ke lembaga keuangan atau bank), hutang yang disrbut mencapai 14 T itu sebetulnya hutang berjalan, dan tidak akan muncul ke permukaan, bila saat itu tidak ada dalang yang berusaha mempailitkan Pak Prabowo ke Pengadilan. Hutang perusaahan itu bukan saja terjadi pada PT Kiani, semua perusaahan di muka bumi ini pasti punya hutang, mau yang konglomerat nomer wahid sampai ke perusahaan seperti mliki saya yang ecek-ecek pasti punya utang perusahaan. Perusahaan saya misalnya punya utang cetak, tapi bukan utang pribadi saya. Utang cetak saya itu saya bayar dari tagihan media yang terjual . Jadi saya juga gak perlu ragu atau takut dengan utang perusahaan saya, karena jumlah utang perusahaan saya yang berjalan sama dengan atau lebih besar dari piutang perusahaan saya ke agen. Mudah-mudahan setelah penjelasan ini paham, bisa membedakan hutang pribadi dan hutang perusahaan. Lha coba tanya saja sama PT Indofood Salim, memangnya perusahaan itu gak punya utang, tetap punya utang besar.



Nah, pertanyaannya mengapa PT Kiani /Kertas Nusantara bisa dipailitkan? Ya namanya perusahaan merugi , pasti ada telat-telatnya membayar ke suplier, apalagi Prabowo menomboki perusahan itu dari kantong pribadinya (diambil dari perusahaan lain). PAdahal kalau Prabowo mau menjual perusahaan itu, karena memang sudah lama diincar asing, Prabowo mungkin bisa membangun lagi 20 perusahaan baru. Tak hanya itu, Prabowo mungkin bisa dengan mudah memenangkan partai Gerindra , karena punya duit luar biasa besar sehingga bisa mendanai partai secara maksimal, sehingga mesin partainya bisa jalan. “Masak saya jual ke asing, lha saya saja habis-habisan selama ini mempertahankannya,” katanya dengan suara pelan.



Balik ke masalah dipailitkan tadi, dalam beberapa kali sidang kubu Prabowo hampir dipastikan kalah, karena waktu itu ada tekanan yang kuat ke penegak hukumnya. Namun di injury time, para penegak hukum itu berani melawan keadaan, dan mereka mengikuti hti nuraninya, hingga kospirasi jahat itu TIDAK BERHASIL MEMPAILITKAN PRABOWO (Suatu saat saya akan bercerita detik-detik menegangkan hingga hakim berani memutuskan Prabowo yang menang, padahal dibawah tekanan yang hebat).



Prabowo di tahun 2011, itu akhirnya diputus tidak bisa dipilitikan, dan hutang 14 T itu bisa direstrukturisasi salaam 20 tahun. Namun bukan Prabowo kalau dia pengecut tidak membayar utang, hingga saat ini hutang tersebut, hanya tinggal 8 T, padahal keputusan pengadilan itu membolehkan Prabowo menyicil ke para supplier hingga 20 tahun.
Tahun 2011 yang hampir menjadi tahun kemiskinan bagi Prabowo (bila berhasil dipailitkan), namun di tahun itu pula Allah SWT, tiba-tiba menghadiahi rezeki yang luar biasa besar pada Prabowo. Di lahan HTI yang merupakan anak perusahaan PT Kiani tersebut, tanpa diduga ditemukan kandungan batubara yang memiliki cadangan konon bisa hingga di atas 50 tahun. Saking hebatnya rezeki yang diberikan oleh Allah SWT, konon hanya 5 cm dari permukaan tanah (tanpa dikeduk ) batau bara tersebut sudah bisa diambil. Dan kekayaan yang diberikan Allah SWT itu baru sebagian kecil diambil Prabowo , sebagian besarnya masih belum di eksplorasi . Demi untuk membiayai Nyapres dan sebagian untuk menjalankan perusahaan , Prabowo sempat akan menjual sebagaian konsesi lahan batu baranya tersebut, namun lagi-lagi sat transaksi akan terjadi ada pihak-pihak yang menghalangi pada konglomerat yang akan membeli sebagain lahan Prabowo tersebut. Tentu tujuannya untuk menghambat Prabowo menjadi Presiden.
Nah , jadi kalau hutang PT Kiani yang kini tinggal 8 T, disbanding dengan asset batu bara Prabowo (anak perusaahan PT Kiani) mencapai puluhan bahkan ratusan Triliun nilainya, apalah artinya, jadi gak jadi Presiden , Prabowo tetap kaya dan bisa membayar utang yg secuil dibandingakn dengan asset perusahaan itu.



Soal karyawan yang disebut-sebut mogok atau gak dibayar, mari saya beberkan sekalian. Sejak gonjang-ganjing tahun 2011 tersebut ( perusahan dipailitkan) , operasi perusahaan tidak penuh, hanya 10 persen saja. Yaitu hanya untk menjaga mesin, namun meski perusahaan tidak berjalan atau hampir tidak berjalan karena kelangkaan bahan baku, Prabowo tetap mempertahankan , tidak mengurangi. Bisa dibayankan 1500 orang yg mohon maaf sebetulnya nganggur itu terus dibayar Prabowo sekitar 13 miliar tiap bulan . Dari mana mereka dibayar, dari kantong pribadi Prabowo.



Nah, ketika saat itu bersamaan Prabowo harus mengeluarkan uang yang juga harus besar, sempat terjadi kelambatan pembayaran, dan kelambatan (yg sekarang sudah mulai diselesaikan) itu kemudian dibesar-besarkan media pendukung sebelah sono lantaran Prabowo tidak membayar karyawannya. Coba kalau media yang memberitakan itu waras , mustinya justru menceritakan, mana ada pengusaha (termasuk bos para wartawan itu) membayar karyawan selama tiga tahun, padahal perusahaan itu hampir tidak operasional (hanya 10 persen oparasionalmya). Orang “nganggur” dibayar kok malah Pak Prabowo masih dihujat. Bahwa memang sempat ada demo, itu lantaran sempat ada yg mengosok , dan yg demo besarnya tidak sampai 100 orang. Namun sekarang mereka semua malah medukung Pak Prabowo menjadi Presiden.



Setelah Pilpres, jadi atau tidak jadi presiden, saat konsesi batu baranya Prabowo sudah dijual atau di eksplorsi, maka PT Kiani/Kertas Nusantara akan investasi besar-besan utk menanam hutan tanaman indutri ( umur tanaman 8 tahun), dan selam menunggu itu dari uangnya, Prabowo akan mengimpor sementara bahan baku. Jangan lupa PT Kertas Nuasntara/Kiani itu dulu dibangun Bob Hasan sebagai perusaahn pulp dan kertas termodern di dunia, bahkan salah satu mesinnya langsung bisa mencetak wall paper.



Jadi kalau ada yang bilang Prabowo jadi Presiden harus mikir utang, saya hanya mengatakan, semoga manusia-manusia bicara seperti itu tidak terus diberi kebodohan oleh Allah SWT. Bagaimana dia akan mikir, habis Pilpres ini konsesi lahannya yang mengandung batu bara luar biasa akan jadi rebutan investor mana pun. ( Sekali lagi, jadi atau tidak ia presiden), karena investor selama ini menahan diri, menunggu hingga Pilpres selesai, Pak Prabowo tetap punya uang besar dari penjualan konsesi batu baranya atau bisa menjual batu bara dari eksplorasi yang akan dilakukan dari lahannya. Semoga dengan tulisan yang saya buat sambil ngantuk dan nahan masuk angin berat ini , dan cukup menyita waktu saya , ada manfaatnya. Terimakasih.


#ekahope
#sayaindonesia
Share:

Minggu, 01 April 2018

Prabowo sangat dibutuhkan oleh Negeri ini



Ketua Partai Gerindra ini dilahirkan dengan nama lengkap Prabowo Subianto Djojohadikusumo, Ia sudah banyak pengalaman di berbagai bidang seperti Militer, Pengusaha serta Dunia Politik  .
Prabowo Subianto dilahirkan pada tanggal 17 Oktober 1951, Prabowo Subianto merupakan anak dari pakar Ekonomi Indonesia pada zaman Soekarno dan Soeharto yaitu Prof Soemitro Djojohadikusumo, Prabowo Subianto juga merupakan cucu dari Pendiri Bank Indonesia dan juga anggota BPUPKI untuk kemerdekaan Indonesia yaitu Raden Mas Margono Djojohadikusumo. 


Dilihat dari Keluarganya Prabowo Subianto memiliki dua orang kakak perempuan yang bernama Bintianingsih dan Mayrani Ekowati, serta satu orang adik laki-laki yang kini menjadi seorang pengusaha handal yang bernama Hashim Djojohadikusumo. Pada tahun 1970, Prabowo Subianto memulai kariernya saat beliau mendaftarkan diri di Akademi Militer Magelang, Beliau kemudian Lulus pada tahun 1974 dari Akademi Militer, kemudian pada tahun 1976 Prabowo ditugaskan sebagai Komandan Pleton Para Komando Grup I Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha) dan ditugaskan sebagai bagian dari operasi Tim Nanggala di Timor Timur.



Prabowo bisa sedemikian fasih dan tampak berwibawa ketika berpidato dalam bahasa Inggris? Wajar, ia menghabiskan banyak waktunya di masa SD-SMA di negara asing.



Beliau menyelesaikan pendidikan dasar dalam waktu 3 tahun di Victoria Institution, Kuala Lumpur, Sekolah Menengah di Zurich International School, Zurich, pada tahun 1963-1964, SMA di American School, London pada kurun waktu 1964-1967.
Sebagai seorang tentara, Prabowo juga meraih banyak prestasi gemilang di dunia internasional.



Tak hanya di tingkat akademis. Prabowo juga banyak berbicara di dunia internasional ketika ia bekerja sebagai seorang tentara. Beliau menorehkan banyak prestasi yang mengharumkan nama Indonesia di negara asing. Pada 1980, Prabowo mengikuti pendidikan di US Army Special Forces, di Fort Bragg, Amerika Serikat. Beliau menjadi lulusan terbaik (distinguished graduate). Hasil yang sama diperolehnya, lulus dengan honor graduate, ketika mengikuti pendidikan di US Army Infantry School di Fort Benning, Amerika, pada 1985. Di Fort Benning pula Prabowo bertemu dengan sahabat baiknya, Raja Abdullah II, yang kemudian dikenal sebagai Raja Yordania. Catatan lain, Stanley A Weiss, pendiri lembaga Business Executives for National Security di Washington, Amerika Serikat, menyebut Prabowo adalah siswa yang cerdas dan paling menonjol yang pernah dilatih di Fort Benning.  Dalam testimoninya di Huffington Post tahun 2012 silam, Weiss mengatakan, ia mendengar sendiri pengakuan Jenderal Wayne Downing, pelatih utama di Fort Benning, yang menyebut diantara para tentara asing, hanya Prabowo dan Abdullah yang bisa menarik perhatiannya.



“Dia mengatakan pada saya, dari semua tentara asing yang pernah dia latih, kedua orang itu saja yang paling menonjol,” kata Weiss.



Prabowo juga pernah mengikuti pendidikan antiteror (GSG-9) di Jerman Barat. Tak hanya itu. pada tanggal 26 April 1997, Tim Nasional Indonesia ke Puncak Gunung Everest berhasil mengibarkan bendera merah putih di puncak tertinggi dunia setelah mendaki melalui jalur selatan Nepal. Tim yang terdiri dari anggota Kopassus, Wanadri, FPTI, dan Mapala UI ini diprakarsai oleh Komandan Jenderal Kopassus, Mayor Jendral TNI Prabowo Subianto.



Ada sejumlah alasan kenapa Prabowo begitu menggebu-gebu untuk mengirim anggotanya mendaki Mount Everest. Salah satunya, ketika itu Malaysia sudah menyiapkan timnya untuk mendaki Everest. "Dia ingin kita lebih dulu dari Malaysia," kata Ogun (pendaki gunung dari Wanadri). Target pendakian ditetapkan sekitar April atau Maret 1997 karena Malaysia merencanakan pendakian pada Juni 1997.



Prabowo memang menaruh perhatian besar terhadap misi ini. Semua kebutuhan tim disiapkan. Peralatan pendakian kualitas kelas satu dibeli dan didatangkan langsung dari Amerika ke basecamp para pendaki Indonesia di Kathmandu. Hubungan yang baik antara Prabowo dengan Angkatan Bersenjata Nepal ikut memperlancar persiapan pendakian. Tim Indonesia, misalnya, sempat mendapat pinjaman peralatan muktahir komunikasi milik Angkatan Bersenjata Nepal.



Prabowo juga sangat mengapresiasi pentingnya menuntut ilmu di luar negeri. Prabowo dikenal senang menyekolahkan talenta Indonesia ke luar negeri dan juga menawari posisi tinggi kepada mereka yang telah lulus. Salah satu contohnya adalah Sudaryono, sekretarisnya, alumnus SMA Taruna Nusantara yang bersekolah ke Jepang atas biaya Kementrian Pertahanan.



Jelas sudah, bahwa Pak Prabowo terlahir dari keluarga cendikiawan dan keluarga yang mapan secara ekonomi. Karena Melihat potensi dan masa depan yg cerah, akhirnya Prabowo di pinang oleh Keluarga Cendana. Prabowo tidak mencari hidup yang aman dengan menjadi seperti keinginan ayahnya sebagai Begawan ekonomi. Prabowo memenuhi panggilan nuraninya...Untuk mengabdi pada Tanah Air Indonesia. Prabowo bukan orang yang ambisius dalam jabatan.Prabowo juga bukan pendendam, dibuktikan dengan dukungannya kepada Anies Baswedan yang dahulu adalah Team sukses Jokowi.

#ekahope
#sayaindonesia
Share:

Jumat, 30 Maret 2018

Kedermawanan Yang Tertukar




Seorang wanita bertanya pada penjual telur yang sudah tua.
Wanita :"Berapa harga telurnya?"
Penjual telur menjawab : "Satu butir harganya Rp2.500,- Nyonya."
Wanita : "Saya mau mengambil 6 butir tapi dengan harga Rp12.500,- atau kalau nggak ya udah, nggak jadi beli."
Penjual telur menjawab : "Baiklah, mungkin ini awal yang baik karena dari tadi tak ada satupun telur yg berhasil saya jual."

Wanita itu mengambil telur - telur tersebut dan berjalan dengan perasaan senang bahwa dia sudah menang. Kemudian dia masuk ke dalam mobil mewahnya dan pergi ke restoran bersama temannya. Di sana, dia bersama temannya memesan apapun yang mereka sukai. Mereka makan sedikit dan menyisakan banyak dari apa yg sudah mereka pesan. Kemudian wanita tersebut membayar tagihannya. Tagihannya sebanyak Rp 450.000. Dia memberikan uang Rp 500.000 dan berkata bahwa kembaliannya untuk sang pemilik restoran saja.

Kejadian seperti ini mungkin terlihat normal bagi pemilik restoran, tapi sangat menyakitkan bagi penjual telur yang sudah tua.

Intinya adalah: "Mengapa kita selalu menunjukkan bahwa kita punya kuasa ketika kita membeli dari orang2 yg membutuhkan? Dan kenapa juga kita jadi dermawan kepada orang2 yg bahkan tidak membutuhkan kedermawanan kita?"

Suatu ketika saya pernah membaca:
"Ayahku biasa membeli barang2 remeh-temeh dari orang miskin dengan harga tinggi, walaupun dia tidak membutuhkan barang - barang tersebut. Kadang - kadang dia bahkan membayar lebih untuk itu. Aku tertarik pada hal ini dan lantas bertanya mengapa dia melakukannya? Kemudian ayahku menjawab, 'Anakku, ini adalah sedekah yang terbungkus dengan harga diri.'"

Seringkali pedagang dianggap pengemis
Padahal si pembeli yg suka menawar harga itulah yg sama dengan pengemis.
Berdaganglah, karena akan melatih kesabaranmu.
Pembeli adalah raja, Tapi seorang raja yang baik tidak akan menawar - nawar dagangan, minta diskon, bonus dll.
Raja tidak akan menghambat rejeki org lain dengan menunda - nunda pembayaran.
Jadilah raja yang baik, tanpa menawar dan jual beli yang disukai adalah ada uang ada barang. Yang menunda - nunda pembayaran bukan jual beli, tapi kredit.

Seringkali terjadi

#ekahope
#sayaindonesia


Share:

Sabtu, 17 Maret 2018

Lawan Kapitalisme



Semangat anti kapitalis yang lantang disuarakan oleh Bapak H. Prabowo Subianto dibeberapa pidatonya  benar – benar menyadarkan  kita bahwa bangsa ini dalam kondisi tidak baik terutama bagi sebagian besar rakyat Indonesia yang adalah rakyat prasejahtera bahkan di bawah garis kemiskinan.
kapitalis mungkin lebih identik dalam dunia ekonomi karena berkaitan dengan uang dimana uang adalah modal utama dalam sebuah pergerakan ekonomi baik makro maupun mikro yang ditunjang tentunya dengan potensi yang ada terutama sumber daya manusia baik kuantitas maupun kualitas ditambah lagi kreatifitas. Dengan ketatnya persaingan usaha saat ini bisa dilihat dominasi kekuatan uang lebih terlihat dan mungkin uang adalah segalanya maka kapitalisme itu muncul bahkan merambah dan masuk ke dalam dunia politik.
Kapitalisme dalam dunia politik bisa terasa dan bahkan begitu nampak ke permukaan sehingga ini menjadi sebuah kewajaran dalam  perpolitikan Indonesia. Angka  yang tertera di etalase menunjukkan harga produk politik yang dipajang di etalase Partai politik,  tinggal bagaimana pemilik uang memilih mau untuk kepala daerah ataupun legislator. Sehingga partai politik ibarat swalayan dimana pembeli akan meninggalkan swalayan setelah membeli dan memperoleh  barang yang diinginkan. Sedangkan kader hanya dicetak sebagaimana fungsinya hanya menjaga dan melayani pengunjung swalayan saja. Di internal Partai politik yang menjalankan sistem kapital itu sendiri mempengaruhi sistem partai yang seharusnya,  dimana kader yang loyal  dan berpotensi tidak bisa berbuat banyak tanpa ada uang karena kalah bersaing  dengan kader yang mungkin tidak berpotensi tapi memiliki uang, kondisi ini sangat – sangat bertolak belakang dengan semangat Prabowo Subianto yang anti kapitalis.
Harapan saya Partai GERINDRA dengan semangat Prabowo Subianto sebagai figur yang menjadi inspirasi dan semangat bagi Partai dan kadernya bisa benar – benar menjalankan sistem tanpa ada unsur kapitalisme didalamnya karena itu bertentangan dan bertolak belakang dengan perjuangan serta cita – cita beliau.  

#ekahope
#sayaindonesia


Share:

Prediksi Politik



Politik itu ibarat pedas, makanan itu serasa nikmat jika ada pedasnya  bagi penyuka pedas tapi untuk orang yang tidak suka pedas adakalanya orang yang tidak suka atau tidak kuat pedas tetap saja saat – saat tertentu ataupun untuk makanan – makanan tertentu ingin dinikmati dengan ada pedas - pedasnya meskipun itu hanya sedikit.
Begitu menarik cita rasa pedas itu, entah pedas dari cabe, merica dsb. Sehingga saya pun berani mengibaratkan politik dengan pedas. Jadi bohong jika ada yang mengatakan sama sekali tidak tertarik dengan politik bahkan anti. Saya pun mengakui itu bahwa saya tetarik dan bahkan mungkin suka politik. Begitu kuatnya daya tarik politik dalam kehidupan kita maka perlu kita untuk memperluas wawasan tentang politik. Sebenarnya salahsatu peran partai politik adalah wadah dimana kita untuk bisa mempelajari politik agar wawasan kepolitikan kita bisa lebih baik dan hasil dari politik yang diterapkan bisa mencapai tujuan yang baik untuk semua.
Sederhananya tolak ukur perpolitikan di suatu negara dikatakan maju dan tidak, bisa dilihat dari jumlah partai. Semisal di Amerika dengan kualitas sumber daya manusia yang relatif maju hanya memiliki dua partai politik yakni Parti Demokrat dan partai Republik. Dan di Indonesia menurut saya sejak Indonesia ini merdeka hingga saat ini kita yang masih menata yang namanya rumah politik, ibarat rumah politik yang masih butuh perabotan atau perlengkapan apa yang dibutuhkan dan masih lebih ke uji coba. Di saat orde lama jumlah partai politik jumlahnya banyak dan di era orde baru jumlah partai hanya tiga partai politik dan itu sebuah kemajuan menurut saya jika tolak ukur yang diawal saya sampaikan tadi yakni jumlah partai politik. Dan mungkin untuk sebagian orang perabotan atau perlengkapan rumah yang ada masih dirasa tidak baik atau bagus sehingga di era reformasi kembali lahir partai – partai politik  yang jumlahnya puluhan. Dengan berjalannya waktu serta dinamika perpolitikan yang dilalui maka saat ini jumah partai politik yang ada berkurang jumlahnya bukan lagi puluhan namun berkurang  menjadi belasan.
Saya memprediksi dimana begitu luasnya dunia informasi yang dijangkau oleh masyarakat serta pengalaman, harapannya wawasan perpolitikan bisa lebih baik dengan diukur dari jumlah partai politik yang lebih sedikit jumlahnya di tahun 2018  ini, kedepannya akan terus menyusut dan bisa jadi hanya tiga partai politik saja seperti di era orde baru. Semoga prediksi saya ini yang terpenting adalah partai politik  yang diibaratkan perabot atau kelengkapan di dalam rumah politik membuat penghuninya dalam hal ini rakyat bisa hidup nyaman dan menjadi tuan rumah di rumah kita sendiri.

#ekahope
#sayaindonesia


Share:

Informasi