• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

  • ekahope

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

  • [SAYA INDONESIA]

    Menggalakkan gotong royong, rasa kepedulian serta menanamkan semangat Pancasila dalam kehidupan sehari - hari

  • Partai BERKARYA

    Saatnya BERKARYA, bukan bergaya

  • PARTAI BERKARYA (Nomor 7)

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 17 Maret 2018

Prediksi Politik



Politik itu ibarat pedas, makanan itu serasa nikmat jika ada pedasnya  bagi penyuka pedas tapi untuk orang yang tidak suka pedas adakalanya orang yang tidak suka atau tidak kuat pedas tetap saja saat – saat tertentu ataupun untuk makanan – makanan tertentu ingin dinikmati dengan ada pedas - pedasnya meskipun itu hanya sedikit.
Begitu menarik cita rasa pedas itu, entah pedas dari cabe, merica dsb. Sehingga saya pun berani mengibaratkan politik dengan pedas. Jadi bohong jika ada yang mengatakan sama sekali tidak tertarik dengan politik bahkan anti. Saya pun mengakui itu bahwa saya tetarik dan bahkan mungkin suka politik. Begitu kuatnya daya tarik politik dalam kehidupan kita maka perlu kita untuk memperluas wawasan tentang politik. Sebenarnya salahsatu peran partai politik adalah wadah dimana kita untuk bisa mempelajari politik agar wawasan kepolitikan kita bisa lebih baik dan hasil dari politik yang diterapkan bisa mencapai tujuan yang baik untuk semua.
Sederhananya tolak ukur perpolitikan di suatu negara dikatakan maju dan tidak, bisa dilihat dari jumlah partai. Semisal di Amerika dengan kualitas sumber daya manusia yang relatif maju hanya memiliki dua partai politik yakni Parti Demokrat dan partai Republik. Dan di Indonesia menurut saya sejak Indonesia ini merdeka hingga saat ini kita yang masih menata yang namanya rumah politik, ibarat rumah politik yang masih butuh perabotan atau perlengkapan apa yang dibutuhkan dan masih lebih ke uji coba. Di saat orde lama jumlah partai politik jumlahnya banyak dan di era orde baru jumlah partai hanya tiga partai politik dan itu sebuah kemajuan menurut saya jika tolak ukur yang diawal saya sampaikan tadi yakni jumlah partai politik. Dan mungkin untuk sebagian orang perabotan atau perlengkapan rumah yang ada masih dirasa tidak baik atau bagus sehingga di era reformasi kembali lahir partai – partai politik  yang jumlahnya puluhan. Dengan berjalannya waktu serta dinamika perpolitikan yang dilalui maka saat ini jumah partai politik yang ada berkurang jumlahnya bukan lagi puluhan namun berkurang  menjadi belasan.
Saya memprediksi dimana begitu luasnya dunia informasi yang dijangkau oleh masyarakat serta pengalaman, harapannya wawasan perpolitikan bisa lebih baik dengan diukur dari jumlah partai politik yang lebih sedikit jumlahnya di tahun 2018  ini, kedepannya akan terus menyusut dan bisa jadi hanya tiga partai politik saja seperti di era orde baru. Semoga prediksi saya ini yang terpenting adalah partai politik  yang diibaratkan perabot atau kelengkapan di dalam rumah politik membuat penghuninya dalam hal ini rakyat bisa hidup nyaman dan menjadi tuan rumah di rumah kita sendiri.

#ekahope
#sayaindonesia


Share:

Rabu, 14 Maret 2018

Tarif tol Jakarta - Surabaya untuk Mudik 2018




Dengan telah diberlakukannya sistem tol integrasi sejak tahun lalu, maka sistem pembayaran dibagi menjadi dua cluster. Cluster pertama merupakan gabungan dari tol Jakarta-Cikampek dan Cikampek-Palimanan dan Purbaleunyi ke arah Bandung. Jadi, nanti masuk pintu tol Cikarang Utama, ambil tiket. Kemudian, baru bayar di pintu tol Palimanan.

Di Cikarang Utama-Palimanan, pemudik akan dikenakan tarif Rp 109.500. Dengan rincian Cikarang Utama-Cikopo Rp 13.500 dan Cikopo-Palimanan Rp 96.000.

Kemudian, pemudik bisa melanjutkan kembali perjalanan lewat tol secara operasional melalui tol Palimanan-Kanci Rp 11.500 dan Kanci-Pejagan Rp 24.000.

Untuk mudik Lebaran tahun ini, pemudik tak perlu keluar dulu di gerbang tol Brexit (Brebes Exit) untuk sampai ke Pemalang karena seksi III dan IV sudah beroperasi. Pada ruas Pejagan-Pemalang sepanjang 57,5 km, pemudik dikenakan biaya sekitar Rp 57.500 hingga ke Pemalang.

Di ruas tol Pemalang-Batang, jalur tol operasional yang bisa dilewati sepanjang 6 km dari Segmen Sewaka ke Pemalang. Dengan asumsi tarif Rp 1.100/km (berdasarkan PPJT), maka biaya yang dibutuhkan melewati ruas ini adalah Rp 6.600.
Lalu, dari Batang hingga ke Semarang, pemudik bisa melewati tol secara gratis karena masih dibuka secara fungsional. Setelah sampai di Semarang, pemudik bisa kembali melanjutkan perjalanan lewat tol hingga Salatiga secara operasional sepanjang 40,4 km dengan biaya Rp 40.400 (tarif Rp 1.000/km).

Setelah tol bisa dilewati secara operasional hingga Salatiga, pemudik masih bisa melanjutkan perjalanan hingga ke Solo lewat tol fungsional (gratis) dari Salatiga hingga Kartosuro. Setelah itu, pemudik bisa menuju Jawa Timur dengan melewati tol Solo-Ngawi yang sudah beroperasi sepanjang 90,42 km dengan biaya Rp 117.546 (tarif Rp 1.300/km).

Dari Ngawi, perjalanan lewat tol operasional bisa terus dilanjutkan hingga Nganjuk Wilangan sepanjang 49,51 km dengan biaya Rp 64.363 (tarif Rp 1.300/km). Dari Nganjuk Wilangan, perjalanan lewat tol dilanjutkan secara fungsional sepanjang 37 km sampai Kertosono.

Sebelum sampai di Surabaya, pemudik harus melewati dua ruas tol lagi yang kini sudah bisa dilewati penuh secara operasional, yakni Kertosono-Mojokerto 39,6 km dan Mojokerto-Surabaya 36,47 km. Biaya untuk kedua ruas tol tersebut masing-masing Rp 28.116 (Kertosono-Mojokerto) dan Rp 38.293 (Mojokerto-Surabaya).
Dengan demikian, total biaya transportasi lewat tol menggunakan kendaraan pribadi (golongan I) dari Jakarta hingga Surabaya diperkirakan mencapai Rp 388.427.

Berikut rincian tarif per perjalanannya:
Cikarang Utama-Palimanan      : Rp 109.500
Palimanan-Kanci                       : Rp 11.500
Kanci-Pejagan                           : Rp 24.000
Pejagan-Pemalang                     : Rp 57.500 (57,5 km)
Pemalang-Batang                      : Rp 6.600 (6,6 km)
Semarang-Solo                          : Rp 40.400 (40,4 km)
Solo-Ngawi                               : Rp 117.546 (90,42 km)
Ngawi-Kertosono                      : Rp 64.363 (49,51 km)
Kertosono-Mojokerto                : Rp 28.116 (39,6 km)
Mojokerto-Surabaya                 : Rp 38.293 (36,47 km)

#ekahope
#sayaindonesia

Share:

Deal Or No Deal



Berbicara karir politik selalu tidak terlepas dari yang  namanya uang, bahkan dalam  politik mungkin uang itu segalanya sehingga inilah potret politik kita. Politik uang yang dipertontonkan di tengah kehidupan  sebagian besar  masyarakat yang serba susah oleh  para aktor politik yang menghambur – hamburkan uang untuk menggapai ambisinya meraih kekuasaan dan tentunya memproleh kekayaan yang berlipat ganda . Berbanding terbalik dengan kehidupan rakyat yang  di irit – irit dengan penuh perhitungan agar bisa menjalankan kehidupannya. Hal ini semakin buruk dengan ditekannya  kebijakan pajak  oleh Pemerintah.
Mari  kita lihat kenapa itu bisa terjadi ?
Sistem yang dibangun dari partai politik demikian adanya, dimana tak ada fungsi lain partai  selain hanya fungsi kendaraan yang menghantarkan beberapa orang dengan kekuatan uang yang dimiliki untuk meraih kekuasaan  dan menghasilkan kekayaan disaat mencapai tujuan. Tidak ada program pemberdayaan masyarakat untuk memberikan edukasi mengenai politik atau bisa memberikan penghidupan. Yang ada hanya membagi – bagi uang guna pengerahan masa demi tujuan dan kepentingan dalam kurun waktu tertentu.
Penjaringan kader – kader partai untuk bertaruh dalam pemilihan legislatif pun belum ada sistem dimana kader – kader yang punya potensi  untuk di dukung penuh oleh partai. Jangan berharap jika penjaringan calon legislatif ini hanya untuk memberikan  keuntungan  sesaat dapat membuat kondisi politik kita baik dan bermanfaat untuk rakyat.
Bagaimana ada kader yang mumpuni untuk bersaing di panggung politik jika tak ada program terkait memberikan pendidikan  politik?
Bagaimana ada kader partai yang ingin turut serta jika sudah ada pos – pos uang yang harus dilewati? Bagaimana bisa ada ikatan emosional dan persamaan persepsi antara para Dewan dan Partainya kalau yang duduk di kursi Dewan itu bukan kader partai itu sendiri?
Dari pertanyaan – pertanyaan di atas dapat saya menjawab untuk perubahan – perubahan itu.
“ Jika Partai 100%  mendukung saya maka akan saya serahkan gaji saya 100% untuk partai”





Share:

Siapa Prabowo?



"Politik identik dengan kekuasaan", ada yang menarik bagi saya dari istilah itu di rezim ini. Saat ini kita tahu bahwa kekuatan politik di Indonesia ada dua kekuatan besar dengan figur ketokohannya yakni Joko Widodo  dan Prabowo Subianto. Joko Widodo yang seorang Presiden Republik Indonesia dan Prabowo yang seorang Ketua Umum Partai GERINDRA.
Jika dalam politik itu untuk merebut kekuasaan dan yang berkuasa saat ini adalah Jokowi, tentulah bidikan - bidikan itu harusnya tertuju pada penguasa dalam hal ini Jokowi dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) sebagai partai pemenang pemilu.
Kemenangan dan kekuasaan tentulah tidak serta merta begitu saja didapatkan, usaha untuk meraihnya, setelah itu menjalankannya dan bagaimana untuk mempertahankannya. Mempertahankan itu tentulah tidak mudah dalam menghadapi gempuran - gempuran dari lawan politik yang juga ingin merebut kemenangan dan kekuasaan, padahal Jokowi didukung oleh koalisi gemuknya.
Yang menarik adalah justru gempuran - gempuran  itu juga tertuju kepada Prabowo, yang jadi pertanyaan saya kenapa Prabowo yang dibidik? terkesan ada ketakutan yang sangat besar terhadap Prabowo dan Partai GERINDRA yang bukan partai pemenang. Dari fenomena ini saya menyimpulkan bahwa Prabowo memiliki nama serta pengaruh besar di Indonesia bahkan mungkin dunia.

#ekahope
#sayaindonesia
Share:

Selasa, 16 Januari 2018

LIBIDO POLITIK


Mahar politik yang akhir - akhir ini menjadi ramai diperbincangkan di awal tahun politik merupakan akumulasi politik akibat semakin tingginya harga politik di Indonesia. Mahar politik itu antara ada dan tiada tergantung darimana prespektif kita dalam menyikapi kewajarannya. Seperti banyak orang mengatakan bahwa saat ini kita sedang menjalankan yang namanya industri politik, bagi yang menganggap politik ini industri bisa jadi mahar itu sebuah kewajaran karena itu dianggap modal.

Fenomena politik kita yang terjadi selama ini menurut saya bahwa permasalahannya ada pada sistem, sistem demokrasi kita yang memang memberikan ruang  seperti ini dimana yang berduit dan yang disokong yang berduit yang menjadi penguasa dan mengelola negeri ini. dan itu semakin ditunjang oleh karena kondisi masyarakat yang dihadapkan dengan banyaknya permasalahan ekonomi.

Mungkin saya hanya ingin memberikan pandangan saya saja yang sederhana, sehingga kita semua bisa memahami. Saya menganalogikan begini, setiap manusia  disemua lapisan masyarakat pada dasarnya pasti memiliki yang namanya hasrat atau dengan istilah lain yakni “libido”. Ketika berbicara tentang politik tentulah kita berbicara hal tentang libido politik dan hampir semua orang memiliki itu meskipun itu tanpa disadari. Bahkan saat kita mengatakan “saya tidak suka politik” sebenarnya hal ini pada dasarnya menunjukkan bahwa dalam diri kita  memiliki hasrat atau libido pada politik, perumpamaannya jika kita mempunyai hasrat kepada seseorang maka apapun yang dilakukannya pasti akan jadi perhatian kita dengan menghasilkan berbagai kesimpulan entah baik maupun kata “saya tidak suka dengan dia” dan itu diucapkan bisa berulang - ulang yang semakin menunjukkan bahwa kita peduli dengan dia. Berbeda lagi jika benar - benar kita yang tidak suka maka kita lebih bersikap acuh tak acuh atau apatis

Mengingat hai ini maka perlu adanya cara agar hasrat atau libido politik ini tersalurkan dan cara itu adalah membangun sebuah sistem yang bisa menyalurkan hasrat politik diseluruh tingkat masyarakat dan sistem ini dapat dijalankan sekaligus mengedukasi bagaimana kita belajar sebagai seorang pemimpin untuk ligkungan masyarakat dari yang terkecil,  dalam permisalan begini, untuk menjadi Ketua RT syaratnya ada lingkungan masyarakat, ingin jadi ketua RW syaratnya pernah menjadi ketua RT dan begitu seterusnya berjenjang dan berkala. Untuk mengikuti Pemilihan Legisatif Daerah Tingkat II setidaknya pernah terlibat di kegiatan kemasyarakatan setngkat kecamatan dan begitu seterusnya ketingkat masyarakat yang lebih luas bahkan mungkin bisa menjadi referensi masyarakat nantinya untuk ke tingkat nasional.

Jika sistem itu bisa berjalan maka masyarakat bisa lebih objektif dalam menyikapi dinamika politik yang selama ini selalu meningkatkan tensi politik dan bisa menimbulkan perpecahan, tercerai berai dan mengancam kedaulatan NKRI.

Semoga tulisan singkat saya ini bisa bermanfaat baik buat saya mupun kita semua, terima kasih.


#ekahope
#sayaindonesia




Share:

Sabtu, 01 Oktober 2016

Queena Allyse Rafa Darmawan


Disaat Putri pertama saya lahir (Mataram,11 Maret 2012), antara bahagia dan sedih bercampur. Perasaan bahagia itu saya rasakan karena mengetahui putri pertama dan anak pertama saya dapat lahir ke dunia dalam keadaan sehat dan cantik. Sedihnya, karena saya yang berbeda lokasi  dan pekerjaan sehingga  tidak bisa melihat langsung dan butuh beberapa hari untuk dapat melihat, mencium, menggendong putriku.

Queena Allyse Rafa Darmawan, nama yang sudah saya persiapkan sejak ratu kecilku masih dalam kandungan. Queena.... Queena... Queena... nama itu selalu kusebut setiap saat, rasanya tidak ingin terlewatkan setiap gerak geriknya. Selama sebulan lebih sejak Queena bersamaku, lelah pasti terasa namun itu terbayarkan oleh besarnya rasa sayang kepadamu nak. Queena.... papa sayang Queena, kalimat itu saya selalu perdengarkan di telinganya. Peluk dan cium selalu kulakukan untuk ratu kecilku dan tak bosan - bosannya kulakukan selama bersamaku.

Kebahagiaan itu pun bertambah karena melihat Ibunda (Almarhumah Wahyunartie) tercinta yang sangat menyayangi cucu pertamanya. Beliau yang jauh di Fakfak karena harus menjalankan tugas mulianya sebagai guru, sampai yang sering sekali ke Surabaya hanya ingin bertemu cucu semata wayang saat itu. Ya.... katanya beliau "Ibu kangen Queena, ingin mengurus Queena".

Jadi bisa merasakan seperti apa Ibunda saya menyayangi saya kala itu.





Share:

Sabtu, 13 Februari 2016

SAYA INDONESIA

"SAYA INDONESIA" istilah kata ini menurut saya dua kata yang memiliki semangat yang sama dengan istilah kata Persatuan dan Kesatuan, dan istilah itulah bagi saya sangat berarti bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Bermula dari Kata Saya Indonesia inilah saya ingin mengingatkan kita semua untuk menjaga keutuhan NKRI.

Melalui slogan Saya Indonesia ini saya ingin mengawali dari kegiatan untuk bersama - sama menjaga lingkungan sekitar kita, semoga gerakan ini bisa menjadi gerakan seluruh rakyat Indonesia.

Silahkan bagi siapa saja yang ingin berkontribusi dalam aksi ini bisa bersama - sama kita beraksi dalam wadah "SAYA INDONESIA".
 

Share:

Informasi